Halo Semuanya, sebagai mahasiswa Sastra Inggris yang juga penggemar berat game RPG, aku sering kepikiran soal satu hal, kenapa ada game yang karakternya bisa begitu membekas, sementara yang lain cepat dilupakan?
Kemudian aku coba untuk bermain Baldur’s Gate 3, dan sejak saat itu, game ini terasa sangat beda. Bukan cuma karena dunia fantasinya yang megah atau pilihan-pilihan yang disuguhkan, tapi karena karakter-karakternya terasa seperti manusia nyata. Rasanya seperti punya teman perjalanan yang benar-benar hidup.
Ada beberapa alasan kenapa pengalaman ini terasa sangat kuat. Bukan cuma soal teknis, tapi juga soal bagaimana narasi dan karakter ditulis, disampaikan, dan direspon oleh kita sebagai pemain.
Karakter yang Bisa Dibaca Layaknya Teks Sastra
Sebagai mahasiswa sastra, aku terbiasa “membaca” karakter. Tidak sekadar melihat apa yang mereka lakukan, tapi menafsirkan mengapa mereka melakukan itu. Di Baldur’s Gate 3, karakter-karakternya punya lapisan seperti dalam novel atau drama klasik.
Kita ambil contoh Shadowheart. Di awal pertemuannya, dia terlihat seperti orang yang sangat percaya pada kepercayaannya, misterius, dan sedikit tertutup. Tapi semakin lama kamu bersamanya, semakin jelas bahwa dia menyimpan banyak keraguan akan dirinya sendiri. Pertanyaan tentang identitas, keyakinan, dan luka masa lalu muncul secara perlahan, bukan mendadak.
..... Dissaproves
Hal paling menyenangkan sekaligus menyebalkan dari companion di BG3 adalah mereka tidak selalu setuju dengan pilihan kita.
Pernah suatu saat aku mencoba mengambil keputusan moral yang kejam saat memainkan karakter Dark Urge, dan Wyll memutuskan untuk pergi. Bukan cuma karena kecewa, tapi karena dia merasa tidak bisa lagi sejalan dengan prinsipku. Ketika ditinggalkan, rasanya seperti ditinggal teman dekat.
Romance yang berproses
Kalau biasanya romance di video game terasa seperti fitur tambahan, di BG3 semuanya terasa lebih dalam. Hubungan tidak dibangun hanya lewat dialog manis. Ada luka, trauma, ketidakpastian, dan waktu.
Contohnya Karlach, yang awalnya tampak seperti Tielfling yang selalu riang gembira. Tapi semakin dekat, terbuka sisi-sisi gelap dari masa lalunya, sisi yang membuat hubungan dengannya lebih rumit dari sekadar “cinta-cintaan remaja”. Aku sendiri tidak merasa sedang menjalani kisah cinta, tapi mendampingi seseorang yang sedang berjuang memahami masa lalunya.
"This Group Full of Weirdos"
Voice acting dan animasi ekspresi wajah di BG3 benar-benar luar biasa. Ekspresi mata, nada bicara, jeda dalam dialog semuanya berperan membangun nuansa emosi yang terasa nyata.
Kadang karakter tidak perlu berkata apa pun. Tatapan mereka, postur tubuh mereka, atau cara mereka diam saja sudah cukup untuk menyampaikan perasaan yang sedang mereka pendam. Ini adalah storytelling visual dan suara yang sangat matang, dan sangat jarang ditemukan di game lain.
Mereka Juga Manusia
Yang membuat karakter-karakter di BG3 begitu kuat bukan karena mereka hebat, tapi karena mereka penuh celah. Setiap dari mereka punya masa lalu yang rumit, keputusan keliru, bahkan sisi gelap yang tidak mudah ditebus.
Lae’zel seorang Gith yang keras dan fanatik, tapi juga kebingungan. Karlach tiefling ceria, tapi terus hidup dalam tubuh yang membunuhnya perlahan. Shadowheart ingin selalu percaya, tapi selalu dihantui keraguan. Tidak ada yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat. Mereka manusia dan itu membuat mereka terasa relatable.
Dinamika Karakter yang Nyata
Satu aspek kecil tapi sangat berdampak adalah bagaimana para companion ini saling sapa, saling debat, dan saling menanggapi satu sama lain. Ini membuat party terasa seperti kelompok teman sungguhan, bukan hanya orang-orang yang kebetulan bertarung di sisi kita.
Aku seringkali terkesima ketika mendengar bagimana Astarion menyindir Karlach, atau waktu Shadowheart dan Lae’zel terlibat dalam beef mereka. Interaksi kecil ini memperkuat ilusi bahwa mereka hidup, bahwa mereka punya hubungan satu sama lain di luar hubungan mereka dengan kita sebagai player.
Baldur’s Gate 3 membuktikan bahwa video game bisa jadi sarana yang sangat kuat untuk bercerita. Karakter-karakternya tidak hanya mendukung cerita, tapi menjadi inti dari pengalaman emosional pemain.
Mereka bukan cuma jadi karakter yang lewat begitu saja. Mereka adalah karakter yang akan aku ingat lama, bahkan setelah gamenya selesai.
Kamu punya cerita yang sama? Companion favorit? Atau keputusan yang kamu sesali sampai sekarang? Tulis di kolom komentar ya!
asssikk sang GOTY 2023 kita, emang ga salah lagi kalo jadi GOTY
BalasHapus