Dalam dunia video game, pahlawan sering digambarkan sebagai sosok yang kuat, gagah, dan selalu tahu apa yang benar. Tapi Arthur Morgan dari game Red Dead Redemption 2 bukan tipe karakter seperti itu. Ia bukan seorang tipikal penyelamat yang muncul di waktu yang tepat. Ia justru terasa seperti kita , manusia yang melakukan kesalahan dalam hidupnya
Arthur bukan sekadar karakter dalam game. Ia adalah potret seseorang yang tumbuh dari kehidupan yang keras, dari kekerasan, kesalahan, dan kebutaan moral, menuju sebuah titik di mana ia mulai melihat makna yang lebih dalam dari hidupnya. Tapi seperti judul dari artikel ini, perubahan itu datang terlambat. Dan mungkin, justru karena itu, momen-momen terakhirnya terasa jauh lebih menyentuh.
Di awal permainan, Arthur adalah tukang pukul/bawahan yang setia pada Dutch van der Linde sosok ayah, pemimpin, dan sumber harapan palsu. Ia menjalani hidup tanpa banyak bertanya. Tapi semuanya berubah saat ia menerima satu kenyataan yang tak bisa ia hindari, bagaimana ia terkena penyakit tubercolosis, tubuhnya mulai sekarat, dan waktu tidak akan memberinya kesempatan kedua.
ang masih bisa ia diselamatkan.
Ada satu kutipan dari Arthur yang selalu membekas di pikiranku:
Itu bukanlah kalimat dari seorang pahlawan. Tapi kalimat seseorang yang menyadari bahwa ia tidak bisa mengubah masa lalunya. Kalimat itulah yang membuat Arthur terasa hidup ia rapuh, ia terluka, tapi ia juga memilih untuk mencoba menjadi lebih baik meski hanya di sisa-sisa terakhir hidupnya.We can't change what’s done. We can only move on.
Arthur Morgan adalah gambaran karakter video game yang tidak sempurna tapi sangatlah hidup. Dia bukan koboi yang datang menyelamatkan hari-harimu seperti pahlawan. Dia adalah koboi yang terlambat menemukan cahaya dan justru karena itu, ia jadi karakter yang sulit dilupakan.
Seuju banget nih Min sama karakter Arthur ini!
BalasHapus